 PROFIL BU RINI Walau pengurus Ikapi Jaya itu rata-rata orang sibuk, namun masih bisa rutin rapat minimal dua minggu sekali untuk membahas hal-hal yang menyangkut permasalahan yang dihadapi anggota. Antara lain masalah ISBN, Permendiknas No. 2 Tahun 2008, dan lain-lain. Namun harus diakui juga bahwa dengan situasi dan kondisi pengurus seperti itu tidak bisa bergerak cepat seperti diharapkan anggota. Saya sendiri belum mensurvei mengapa pertumbuhan anggota Ikapi Jaya tidak besar, utamanya mensurvei alasan anggota yang mundur. |
|
|
Aris Guntarman saya tidak peduli seandainya tulisan ini dibaca dan ditanggapi Ir. Kosasih Antonius Iskandarsjah. Ia sahabat karib saya sejak tahun 1983. Ketika saya mengusulkan kepada manajemen penerbitan di mana saya bekerja agar dibentuk sebuah imprint yang mengkhususkan diri pada buku-buku sains, ia merespon cepat. Berdirilah sebuah penerbit baru. Elkom namanya, sekarang menjadi Penerbit PT Elex Media Komputindo. Ia memegang bagian redaksi, saya berperan di bidang promosi.
|
|
|
PAGI ITU, Jumat, 10 Oktober 2008, Warta Ikapi berkunjung ke Ruang Kerja Tim ISBN/KDT, di lantai 2, Perpustakaan Nasional, melihat-lihat dan berbincang mengenai pengurusan ISBN. “Selamat pagi, Bu,” sapa Warta Ikapi. Dengan senyum ramah, seorang ibu yang enggan disebutkan namanya menyapa Warta Ikapi. “Bapak mengurus ISBN, ya? Silakan duduk. Dari penerbit mana, Pak?” lanjut ibu itu. Pembicaraan sedikit kaku dan terkesan hati-hati ketika Warta Ikapi memperkenalkan diri sebagai “orang Ikapi DKI”. “Saya dari Warta Ikapi Jaya, ingin mencari informasi seputar mekanisme pengurusan ISBN untuk kepentingan anggota kami.”
|
|
|
“Saya memang bisa memahami bahwa kebijakan ini akan menurunkan tingkat pemilihan buku yang diproduksi oleh para penerbit buku sekolah. Namun, menurut saya, karena nantinya yang akan menggunakan buku sekolah elektrik itu tidak akan selamanya bisa membaca di komputer/internet, harus ada kemungkinan buku itu bisa dicetak. Penerbit pun bisa bekerja sama dengan daerah, yang memiliki biaya untuk pencetakan buku. Dengan demikian daerah bisa mencetakkan buku bagi murid-muridnya bekerja sama dengan penerbit. Jadi, penerbit ya memang harus sedikit ngalah. Artinya, untungnya tidak akan banyak, tetapi toh masih bisa memperoleh penghasilan dari itu. Itu kalau menyangkut buku utamanya.”
|
|
|
Macam Ragam Ideologi akhmad fikri af
Tak pelak, dunia penerbitan di Indonesia, khususnya dunia penerbitan Islam, merupakan pengejawantahan dari kontestasi ideologi pemikiran keislaman yang telah berlangsung sejak awal abad 20. Dalam batasan tertentu pula harus diakui bahwa di masa-masa awal kontestasi sampai sekitar tahun 1960-an, kita masih merasakan diskursus yang penuh dialog dan perdebatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika akademik.Hal ini, tentulah sangat berbeda jika kita coba bandingkan dengan kecenderungan dewasa ini, terutama di lima tahun pertama reformasi (1998). Yakni; suasana yang cenderung mengabaikan nilai-nilai etika akademik, penuh intrik politik dan kadang-kadang dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Ketidaksetujuan kita terhadap suatu jenis pemikiran kadang-kadang diwujudkan dalam bentuk penyerangan secara pisik kepada pihak lain yang kita anggap sesat pikir dan membohongi umat. |
|
|

krisna suryadanuaji Sebagai anak yang dilahirkan dari keluarga prajurit, buku pernah menjadi barang mewah bagi saya. Kami harus mendahulukan kebutuhan perut dibandingkan buku. Untunglah, biar hidup pas-pasan, Ibu menjadikan koran dan buku sebagai salah satu bentuk rekreasi. Membaca koran terasa seperti bertemu oase—dan tak putus-putusnya saya kagumi keajaiban membaca: bagaimana huruf demi huruf itu membentuk rangkaian kata, kalimat, pada akhirnya gagasan, dan sebuah cerita pun terbentang di hadapan saya! Dengan cara ini, Ibu menanamkan gagasan bahwa membaca itu bukan cuma penting, tapi juga menghibur! |
|
ERIK TOHIR
Pimpinan umum harian REPUBLIKA
Dari kecil Erick Thohir (38) memang hobi membaca. Kebiasaan itu menurutnya didapat dari kedua orang tuanya yang selalu membelikannya buku-buku bacaan.
“Dan itu menjadi habit(at) saya sampai sekarang”kenang Erick saat ditemui usai menghadiri pembukaan Pesta Buku Jakarta (PBJ) IKAPI 2008. Sebelum diminta komentarnya, Presdir Harian Umum Republika ini pun kerap membaca berbagai penerbitan. |
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 11 dari 23 |