|
Macam Ragam Ideologi akhmad fikri af
Tak pelak, dunia penerbitan di Indonesia, khususnya dunia penerbitan Islam, merupakan pengejawantahan dari kontestasi ideologi pemikiran keislaman yang telah berlangsung sejak awal abad 20. Dalam batasan tertentu pula harus diakui bahwa di masa-masa awal kontestasi sampai sekitar tahun 1960-an, kita masih merasakan diskursus yang penuh dialog dan perdebatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika akademik.Hal ini, tentulah sangat berbeda jika kita coba bandingkan dengan kecenderungan dewasa ini, terutama di lima tahun pertama reformasi (1998). Yakni; suasana yang cenderung mengabaikan nilai-nilai etika akademik, penuh intrik politik dan kadang-kadang dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Ketidaksetujuan kita terhadap suatu jenis pemikiran kadang-kadang diwujudkan dalam bentuk penyerangan secara pisik kepada pihak lain yang kita anggap sesat pikir dan membohongi umat. |
|
|

krisna suryadanuaji Sebagai anak yang dilahirkan dari keluarga prajurit, buku pernah menjadi barang mewah bagi saya. Kami harus mendahulukan kebutuhan perut dibandingkan buku. Untunglah, biar hidup pas-pasan, Ibu menjadikan koran dan buku sebagai salah satu bentuk rekreasi. Membaca koran terasa seperti bertemu oase—dan tak putus-putusnya saya kagumi keajaiban membaca: bagaimana huruf demi huruf itu membentuk rangkaian kata, kalimat, pada akhirnya gagasan, dan sebuah cerita pun terbentang di hadapan saya! Dengan cara ini, Ibu menanamkan gagasan bahwa membaca itu bukan cuma penting, tapi juga menghibur! |
|
ERIK TOHIR
Pimpinan umum harian REPUBLIKA
Dari kecil Erick Thohir (38) memang hobi membaca. Kebiasaan itu menurutnya didapat dari kedua orang tuanya yang selalu membelikannya buku-buku bacaan.
“Dan itu menjadi habit(at) saya sampai sekarang”kenang Erick saat ditemui usai menghadiri pembukaan Pesta Buku Jakarta (PBJ) IKAPI 2008. Sebelum diminta komentarnya, Presdir Harian Umum Republika ini pun kerap membaca berbagai penerbitan. |
|
.jpg) Inilah hasil pilihan dewan juri terhadap para peserta yang telah mengikuti berbagai yang diadakan Panitia Pesta Buku Jakarta 2008 yang berlangsung darii tanggal 28 juni s/d 6 Juli 2008. Diantaranya tampil sebagai juara Blog, Stan terbaik, Futsal antar penerbit serta undian door prize pengunjung.
Sebagai juara lomba Blog, terpilih 3 orang pemenang setelah dewan juri memilih dan menilai hasil karya dari 71 orang peserta yang mengikuti lomba bloger berdasarkan kriteria sbb: |
|
|
Banyak yang Kecele
Beruntung penerbit Pustaka Abdi Bangsa yang ikut berpameran di acara Pesta Buku Jakarta 2008 Istora ini mengadakan temu penulis.Kalau tidak, mungkin sampai saat ini para penggemar novel Bidadari-bidadari Surga ini tak mengetahui siapa dan bagaimana kiprah penulis muda ini.
Pasalnya, sang penulis yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Tere-Liye tampil di luar dugaan. Alih-alih muncul sebagai seorang wanita berkulit putih, rambut panjang, cantik dan cerdas seperti yang terbayang dalam cerita novel tersebut, Tere justru hadir sebagai laki-laki. Ya..penulis bernama Darwis ini ternyata seorang dosen yang juga akuntan, jauh dari dugaan banyak orang.
|
|
|
Membaca Karakter Orang Melalui Wajah
Pernah penasaran dengan sifat orang yang sedang Anda taksir? Atau Anda Ingin tahu karakter diri yang sebenarnya? Kalau memang demikian, rajin-rajinlah Anda mengamati wajah orang yang sedang di tuju. Kok begitu? Mungkin Anda heran, apa hubungannya dengan berbagai pertanyaan di atas. Sabtu (5/7) sore, Iyeng, wanita yang kerap melayani konsultasi ramalan di sebuah stasiun tv swasta ini hadir menjawab peroalan-persoalan yang banyak dimiliki orang.
|
|
|
Perempuan Harus Sejajar Dengan Laki-laki  Mendatangkan beberapa pakar pembicara perempuan seperti Dewi Motik, Titik Said, Dr.Free Hearty, Pipiet Senja, Puti Lenggo dll, panggung utama Pesta Buku 2008 nampak ramai didatangi pengunjung. Ya, hari Minggu (6/7) siang ditempat tersebut diadakan talkshow mengenai Perempuan dan Harmoni. Para pembicara yang diundang banyak bercerita tentang permasalahan-permasalahan yang kerap menimpa wanita. Dari soal jomblo, perkosaan, pernikahan hingga kawin cerai. Semua dibahas tuntas oleh perempuan-perempuan yang hadir di depan. Mereka banyak menjelaskan bagaimana peranan wanita saat ini dan tahun-tahun sebelumnya. Baik yang ada di pedesaan maupun perkotaan seperti Jakarta. |
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 11 dari 19 |